Menapak Tilas Sejarah Bangsa di Ende

Tidak seperti daerah lainnya di Flores yang menyihir para wisatawan dengan keindahan pantai dan lautnya, Ende memiliki nilai historikal yang tidak mampu ditandingi oleh kota-kota lainnya di Flores atau bahkan di Indonesia. Ende yang konon disebut rahim Pancasila ini menyimpan beberapa cerita menarik.

Kota Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur ini dikenal sebagai tempat diasingkannya Presiden Indonesia yang pertama dan juga sebagai kota singgah menuju gunung Kelimutu. Siapa yang tahu bahwa dibalik itu, Ende menyimpan daya tarik yang kuat bagi penikmat wisata alam sekaligus wisata sejarah. Dijamin sangat menyenangkan bagi penduduk kota-kota besar untuk tinggal di sebuah kota yang dikelilingi pegunungan dan bukit. Di tengah kota sekalipun, sejauh mata memandang Anda akan tetap melihat figur gunung di belakang tiap bangunan. Di kawasan perbukitan tersebut ada yang dikenal dengan Gunung Meja dan Gunung Iya. Bahkan apabila Anda berada di bangunan yang cukup tinggi, Anda dapat melihat batas-batas laut hampir di semua sisi kota ini.

Tidak seperti pantai yang ada di Labuan Bajo yang memiliki keindahan khas pantai dengan pasir putih, laut biru serta ombak yang mengundang, pantai di Ende memiliki pasir yang berwarna hitam dan air laut yang tenang. Pantai di kota ini memang bukan merupakan daya tarik utama. Hal yang menarik dari pantai-pantai ini adalah Anda bisa menemukan batu-batu alam asli Ende dengan warna-warna yang sangat indah dan bentuk yang beragam tersebar sepanjang garis pantai mereka. Di batas jalan antara pantai tersebut dengan jalan mobil, terdapat sederet penduduk lokal yang menjual batu-batu tersebut dengan harga yang sangat terjangkau. Walaupun hanya sekedar batu, namun tidak ada salahnya membawa batu ini sebagai buah tangan untuk dekorasi dan pajangan.

Layaknya kota-kota lain yang dikelilingi oleh laut dan pantai, Ende memiliki makanan laut sebagai bahan utama makanan khasnya. Bagi penikmat wisata kuliner, restoran Pangan Lokal di Jl. Melati tidak boleh dilewatkan. Restoran ini adalah restoran yang menghidangkan makanan khas Ende-Lio. Di restoran ini, aneka menu ikan seperti ikan kuah asam dan sayur bunga papaya ditemani nasi merah, nasi jagung atau nasi kacang tersedia dengan lezat. Selain pangan lokal, rumah makan Niki Sae di Jl. Jendral Gatot Subroto juga menghidangkan menu makanan laut yang lezat. Rumah makan ini dikenal sebagai rumah makan dengan foto Boediono di dindingnya. Foto tersebut diambil ketika Wakil Presiden Boediono dan tim mengunjungi Ende untuk survey rencana restorasi situs-situs pengasingan Bung Karno.

Situs Pengasingan Bung Karno

Kota Ende sudah lama dikenal sebagai kota Pancasila. Asal muasal julukan ini datang dari kisah diasingkannya Bung Karno ke kota ini pada tahun 1934. Bung Karno yang sewaktu itu berumur 35 tahun dibawa ke Ende bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertua Bu Amsih dan dua anak angkatnya Ratna dan Kartika diasingkan sebagai tahanan politik selama empat tahun. Rumah yang dihuni Bung Karno sekeluarga selama masa pengasingan berada di Jl. Perwira dan rumah tersebut dijadikan situs sejak tahun 1954. Rumah ini tidak kelihatan berbeda dengan rumah-rumah lain disekitarnya. Sekarang rumah ini dibuat menyerupai museum kecil dengan koleksi barang-barang yang digunakan oleh Bung Karno saat berada di Ende. Terpajang juga foto-foto keluarga dan dokumentasi kegiatan beliau selama masa pengasingan.

Sejak 2012 lalu, rumah pengasingan ini dipugar dan direnovasi. Rumah ini dipugar sedemikian rupa agar tetap sama dengan aslinya dengan konstruksi dan kualitas yang diperbaharui untuk kesinambungan bangunan situs ini kedepannya. Konten dari museum di dalam rumah ini juga sangat teratur dan tertata, lengkap dengan sebuah mesin digital yang menyediakan informasi mengenai Ende dan sejarah Bung Karno. Di belakang rumah ini ada sebuah taman belakang baru yang sangat indah dipandang mata. Terdapat juga sebuah kursi panjang untuk pengunjung duduk-duduk sambil menikmati rumah ini. Kunjungan ke situs rumah pengasingan ini tidak dipungut biaya dan pengunjung dapat dengan bebas menikmati rumah ini sampai sekitar jam lima sore sebelum rumah ditutup.

Pemugaran rumah pengasingan ini merupakan awal dari sederet proyek pemugaran situs Bung Karno di Ende lainnya. Ternyata diam-diam, Ende menyimpan rencana pembangunan besar-besaran untuk turisme mereka. Kedepannya seluruh bangunan-bangunan dimana terdapat jejak perjalanan kehidupan Bung Karno akan dijadikan sebuah rangkaian perjalanan objek wisata sejarah kota Ende. Bangunan-bangunan tersebut akan dipugar dan didesain sedemikian rupa agar standarnya tidak kalah dengan situs-situs sejarah lain di Indonesia maupun mancanegara. Pemugaran ini diawasi oleh Yayasan Ende Flores yang dibentuk oleh Wakil Presiden Boediono, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman juga Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan desain dari arsitek Andra Matin.

Selain rumah pengasingan, ada lagi satu proyek pemugaran yang sudah bisa dinikmati. Proyek tersebut adalah Taman Rendo, sebuah taman di tengah kota Ende yang konon merupakan tempat dimana Bung Karno merenung dan akhirnya memformulasikan butir-butir Pancasila. Di taman ini dirancang sebuah dek kayu yang sangat luas dengan sebuah kolam memanjang dan sebuah kursi panjang yang terlihat mengambang di atasnya. Duduk di atas kursi panjang tersebut adalah patung Bung Karno karya seniman Hanafi. Patung tersebut menggambarkan sosok Bung Karno yang sedang duduk merenung di bawah pohon sukun.

Pada hari Pancasila tanggal 1 Juni 2013 kemarin, di kota Ende ini diadakan acara peresmian rumah pengasingan Bung Karno serta taman kota oleh Wakil Presiden RI Boediono dan Ketua MPR Taufik Kiemas. Pada hari tersebut dapat disaksikan bahwa masyarakat Ende sangat terlihat memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Bung Karno. Sangat terlihat dari semangat mereka dalam menyambut acara ini dan tingginya apresiasi mereka terhadap proyek-proyek tersebut. Taman kota yang lebih dikenal sebagai Taman Rendo ini ramai sekali oleh pengunjung dari sejak pembukaan sementara sampai ditutup kembali untuk konstruksi lanjutan dua hari kemudian. Konstruksi di area taman ini akan dilanjutkan dengan pembangunan sebuah museum diorama mengenai kisah Bung Karno di Ende serta renovasi Museum Bahari dan Museum Tenun yang sebelumnya memang sudah ada di area besar taman tersebut. Rencananya pembangunan taman ini akan selesai dan bisa dinikmati sepenuhnya di bulan Agustus tahun ini.

Taman Rendo ini benar-benar tidak boleh dilewatkan. Rasanya belum ada ruang publik yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan terdesain dengan baik sekaligus. Dek kayu yang ada di taman ini sangat panjang dan memiliki kenaikan level di ujungnya. Pada area ini, pengunjung taman dapat dengan bebas duduk menatap di arah laut atau sekedar bersantai sambil menatap langit. Langit biru di Ende saat siang hari memang luar biasa indahnya, namun menatap langit dari dek kayu di taman ini pada malam hari tidak ada duanya. Langit Ende sangat cerah dan ditaburi bintang-bintang yang sangat terang. Suasana malam di taman ini sangat hidup, dan dapat dipastikan wisatawan yang datang dari kota besar akan sangat merindukan suasana malam di taman ini. Rasanya hampir tidak percaya bahwa di Indonesia, khususnya di kota kecil yang jauh dari ibukota Indonesia dapat ditemui fasilitas ruang publik seperti ini. Tidak ada taman seperti ini selain di Ende.

Keindahan Gunung Kelimutu

Kedatangan anda ke Ende belum lengkap apabila tidak menyisihkan waktu untuk mengunjungi salah satu gunung paling terkenal di tanah air ini. Kelimutu merupakan sekelompok pegunungan yang memiliki tiga danau dengan tiga warna yang berbeda pada kawah puncaknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyokong kehidupan kota ini adalah pengunjung-pengujung yang singgah menuju ke Kelimutu. Pendakian menuju puncak Gunung Kelimutu ini tidak sulit dan relatif mudah untuk para wisatawan yang belum pernah mendaki gunung sekalipun. Daerah pegunungan ini sudah dikelola menjadi Taman Nasional Kelimutu, maka dapat dipastikan jalur pendakiannya pun aman dan mudah ditempuh. Dari kota Ende, perjalanan ke Kelimutu dapat ditempuh dengan jarak sekitar 50 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Ketiga danau yang ada di gunung ini masing-masing memiliki cerita yang berbeda-beda dibalik warnanya yang berbeda-beda. Konon menurut kepercayaan penduduk, danau-danau tersebut adalah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa manusia yang telah meninggal. Danau warna biru muda, hijau dan hitam yang ada di masing-masing kawah danau tersebut selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Terkadang ada yang berubah menjadi warna biru tua dan merah. Hal unik seperti inilah yang mengundang wisatawan bahkan peneliti untuk mengunjungi gunung ini.  Danau berwarna biru yang bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat dimana jiwa anak-anak muda dikumpulkan, danau berwarna hitam (dapat berubah menjadi warna merah) yang bernama Tiwu Ata Polo merupakan tempat dikumpulkannya jiwa orang-orang yang berbuat kejahatan semasa hidupnya dan danau selanjutnya yang disebut Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya jiwa orang-orang tua. Disebutkan bahwa perbedaan warna-warna ini disebabkan oleh kandungan-kandungan mineral yang terlarut dalam setiap air danau sekaligus respon terhadap cuaca serta musim.

Pastikan untuk mengunjungi Kelimutu sebelum matahari terbit di pagi hari karena pada waktu inilah Anda dapat menyaksikan puncak keindahan Kelimutu. Berangkatlah paling lambat pukul tiga pagi dari kota Ende untuk mengejar momen tersebut. Setelah melalui jalur pendakian menuju puncak selama sekitar tiga puluh menit, anda kemudian dapat duduk sambil minum kopi dan melihat-lihat kain khas Ende di puncak gunung ini sambil menikmati matahari terbit dari balik pegunungan. Hal menarik lainnya adalah anda dapat sekaligus menyaksikan bergeraknya gulungan kabut yang sedianya menutupi kawah Tiwu Ata Polo sampai kabut tersebut benar-benar meninggalkan danau itu sekitar pukul tujuh pagi. Perjalanan turun gunung pun tidak kalah indahnya. Suasana alam di sekitar jalur pendakian yang masih gelap saat mendaki naik, sudah terang pada saat anda turun gunung. Pemandangan hutan hijau yang luas ditambah warna langit biru yang luar biasa ini dapat membuat Anda berdecak kagum. Di hutan-hutan tersebut juga dapat kita temui banyak monyet yang hidup bebas di daerah Taman Nasional Kelimutu ini. Hal yang perlu diingat bahwa suhu di Kelimutu sebelum matahari terbit dapat dikategorikan sangat dingin. Ada baiknya apabila pendaki siap dengan pakaian hangat. Semakin seru apabila anda bersama teman-teman membawa bekal untuk piknik sarapan saat menikmati matahari pagi di Kelimutu ini.

Merencanakan Perjalanan ke Ende

Perjalanan ke Ende dari Jakarta ditempuh dalam waktu total sekitar tiga jam penerbangan dari Jakarta melalui transit Denpasar, Kupang atau Labuan Bajo tergantung pada maskapai yang dipilih. Biasanya penerbangan komersil menyediakan penerbangan sampai tiga kota tersebut, dan dilanjutkan dengan maskapai Sky Aviation, Wings Air, TransNusa atau Aviastar sampai tiba di bandara H. Hasan Aroeboesman di kota Ende.

Ende memang belum menyediakan hotel dengan standar kota-kota besar di Indonesia, namun pilihan penginapan di Ende cukup bervariasi. Hotel Grand Wisata di Jl. Kelimutu No. 32 merupakan hotel bintang tiga yang cukup terkenal di kalangan wisatawan yang menginginkan tingkat kenyamananan yang lebih high-end. Untuk wisatawan yang lebih fleksibel, Hotel Mentari di Jl. Pahlawan memiliki restoran yang memiliki view luar biasa di lantai duanya. Untuk informasi penginapan lainnya bisa diakses melalui situs resmi kabupaten Ende di http://portal.endekab.go.id. Untuk transportasi anda dapat menyewa mobil sekaligus dengan pengemudi dengan harga sekitar lima ratus ribu rupiah.

Perjalanan Anda ke Ende harus diselingi kunjungan ke pasar yang menjual kain tenun khas Ende. Anda bisa bertanya pada para penduduk lokal dimana anda bisa menemukan pasar yang menjual kain-kain tersebut. Anda bisa diarahkan ke pasar di Jl. Pabean atau Jl. Pasar. Namun jangan khawatir, karena kain-kain tersebut sangat mudah ditemui. Bahkan Anda dapat mendapatkan kain ini sekaligus saat Anda pergi ke Gunung Kelimutu. Di area parkiran Taman Nasional Kelimutu dan bahkan di puncaknya, tersedia banyak pilihan kain-kain tenun yang dijual oleh penduduk-penduduk setempat.  Kain-kain tenun ini merupakan buah tangan yang sempurna bagi wisatawan yang pergi ke Ende.

Rasanya sayang apabila Anda berencana untuk melakukan perjalanan ke daerah Nusa Tenggara Timur tanpa menyempatkan mampir ke kota ini. Kota Ende sangat berpotensi menjadi sebuah pusat wisata sejarah di Indonesia di masa depan. Kota kecil ini masih memiliki banyak ruang untuk dibangun dan dikembangkan. Apalagi dengan proyek-proyek pemugaran situs di kota ini yang menciptakan ruang-ruang publik yang sangat dirindukan oleh rakyat Indonesia yang tinggal di ibukota. Dapat dipastikan jumlah wisatawan akan meningkat sejalan dengan pamor Ende yang akan meningkat pesat setelah proyek-proyek situs pengasingan Bung Karno selesai. Tidak ada salahnya apabila anda menjadi orang-orang pertama yang menjadi saksi perjalanan revitalisasi situs-situs tersebut dari sekarang.

Teks & Foto: Fauzia Evanindya

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.