Echoes from the Past

Sore itu, pesawat sudah berada di ketinggian di bawah 4.000 kaki di atas tanah Indocina. Impresi awal sejauh cakrawala terlihat hanyalah hamparan tanah tandus dengan pepohonan yang jarang dan terlihat invidualis. Namun sulit rasanya untuk memupus rasa antusias saya terhadap Kamboja. Negara dengan sejarah yang inspiratif namun juga depresif, beserta karya agung masa lampau yang sepaket pula dengan rasa trauma.

Phnom Penh

“Jakarta masa awal Orde Baru,” celoteh rekan saya yang ikut dalam perjalanan ini. Phnom Penh merupakan ibukota dari Kamboja, yang seringkali menjadi kota pertama yang disinggahi bagi para wisatawan. Dahulu kota ini sempat dikenal sebagai “Mutiara Asia”, karena menjadi salah satu kota terindah yang pernah dibangun pada masa kolonial Prancis sekitar tahun 1920-an. Kota ini memiliki sistem grid dalam penataannya, mungkin dapat dikatakan mirip New York, selain itu cukup unik karena tidak mempunyai nama jalan layaknya kota-kota lain melainkan digantikan oleh sistem penomoran.

Cara tersendiri untuk menikmati jantung setiap kota adalah dengan mengunjungi pasar-pasarnya. Pasar Thmei atau sering juga disebut dengan Central Market dibuka pada pukul 6.30 pagi, namun baru terasa keramaiannya di atas pukul 9 pagi. Pasar ini berbentuk seperti hal berkubah besar yang menyerupai seperti ziggurat Babylonia, menjual berbagai perhiasan di area tengah pasar, pakaian dan elektronik di sisi samping, sembako dan tentunya kuliner di sisi luar pasar.

Kuliner Kamboja memang kurang terkenal apabila dibandingkan dengan saudaranya, Thailand dan Vietnam. Namun bukan berarti kuliner mereka kurang bisa diandalkan. Dikarenakan oleh posisi geografisnya, masyarakat Kamboja lebih banyak mengkonsumsi jenis ikan air tawar, ayam dan sayur-sayuran. Untuk hidangan andalan mereka yang terkenal adalah Amok Trey, daging (biasanya fillet ikan) yang dicampur oleh bumbu Kroeung (campuran serai dan galangal), dimasak dengan santan, telur dan kacang, kemudian dikukus dalam bungkusan daun pisang. Pada umumnya, kuliner lainnya terlihat seperti percampuran antara Thailand, Vietnam dan kolonial Prancis, mulai dari Kuyteav (mie kuah dari tepung beras dengan aneka daging dan merica lokal Kampot), Num Cha Gio Pale (lumpia khas Kamboja) dan Nom Pang (roti baguette diisi dengan aneka daging dan bumbu lokal) yang mirip dengan Banh Mi di Vietnam.

Hari sudah semakin siang, perjalanan dilanjutkan menuju Tuol Sleng Museum yang tidak jauh dari pusat Phnom Penh. Dahulu tempat ini merupakan bangunan sekolah, lalu diambil alih oleh rezim Khmer Merah menjadi penjara dan tempat penyiksaan yang dinamakan S-21. Saloth Sar, yang lebih dikenal dengan nama Pol Pot, merupakan orang yang bertanggung jawab di balik semua kejadian tragis di Kamboja. Selama kepemimpinannya, Kamboja menjadi lebih buruk dibanding pada masa kolonial Prancis. Seperti halnya Nazi, para petinggi Khmer Merah saat itu sangat teliti dalam menyimpan kekejamannya dan setiap tahanan dalam S-21 diharuskan untuk difoto dahulu sebelum dieksekusi. Suasana siang yang terik menjadi sunyi dengan rasa prihatin tatkala para pengunjung mulai menyusuri koridor-koridor kelas yang dijadikan sel dan tempat penyiksaan. Foto-foto para tahanan pun seakan menghantui pengunjung dengan memperlihatkan kesedihan bagaimana teganya saudara sebangsa yang seakan menjajah
bangsa sendiri.

Di sepanjang perjalanan, tidak dapat dipung-kiri bahwa ibukota ini masih berkembang dan perlu berbenah. Lalu lintas umumnya dikuasai oleh segala jenis sepeda motor yang dimodifikasi menjadi berbagai alat transportasi dan pengangkutan, serta bukan hal yang aneh sepeda motor dinaiki oleh 3 sampai 5 orang. Sarin, juru mudi tuktuk kami, bercerita bahwa pemerintah berencana menghapus keberadaan tuktuk untuk digantikan menjadi taksi yang umum. Sangat disayangkan sebenarnya karena tuktuk ini sudah seperti menjadi kebudayaan yang identik dengan Asia Tenggara.

The Choeung Ek Genocidal Center atau lebih dikenal dengan Killing Fields menjadi lokasi terakhir untuk menyaksikan peninggalan kekejaman rezim Khmer Merah. Letaknya cukup jauh, sekitar 14km dari Phnom Penh. Sesampainya di sana, kami menerima sebuah audio-guide yang tersedia dalam berbagai bahasa yang memiliki beberapa channel yang dapat kita dengar sesuai dengan nomor pos yang tersedia. Lebih dari 17.000 tahanan dari S–21 dibawa ke tempat ini untuk dieksekusi tanpa memandang umur, jenis kelamin dan status sosial, mulai dari rakyat biasa sampai penyanyi pada masa itu. Sulit dibayangkan kekejaman yang berlangsung di tempat tersebut, tempat yang dahulunya merupakan perkebunan, sekarang berubah menjadi situs memorial yang menampilkan ribuan tengkorak dan tulang belulang. Tidak banyak yang dilakukan para pelancong yang datang selain duduk, mendengar audio-guide dan merenung. Runtuhnya rezim Khmer Merah membuat negeri dan seluruh rakyatnya menuju masa yang sangat sulit karena mereka tidak mempunyai fondasi apapun dan mereka harus memulai lagi dari titik nol. Namun kini, berkat semangat dan rasa optimisme, mereka akhirnya telah bangkit dari trauma dan keterpurukan.

Seam Reap

Perjalanan tidak terhenti di Phnom Penh saja, kali ini dilanjutkan menuju Siem Reap. Jarak perjalanan sekitar 300 km menuju barat laut kota Phnom Penh seharusnya ditempuh hanya dalam waktu 5–6 jam saja dengan menggunakan bus. Namun perjalanan terhambat dengan adanya perbaikan jalanan yang berujung kemacetan berjam-jam selama berada di Kompong Cham. Alhasil, waktu yang dihabiskan di dalam bus pun mencapai 9 jam.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Siem Reap, yang secara harafiah berarti “kekalahan Siam” merupakan daya tarik utama tujuan wisata di Kamboja. Kota ini memiliki daya pikat tersendiri, mulai dari masyarakatnya, pola hidupnya yang cukup santai, banyaknya bangunan peninggalan kolonial Perancis dan tentu saja, candi-candi sisa peninggalan kejayaan masa lampau. Setiap tahun ada sekitar 2 juta wisatawan yang mengunjungi Angkor, namun ironisnya masyarakat di Provinsi Siem Reap merupakan yang termiskin di Kamboja.

Perjalanan bus yang memakan waktu 9 jam membuat kami menunda dahulu untuk mengunjungi komplek Angkor Wat. Kami memilih mengunjungi Beng Mealea yang jauh terpisah dari kompleks Angkor Wat untuk perjalanan yang lebih santai. Beang Mealea terletak 65 km di sebelah timur laut Siem Reap, dan merupakan komplek candi yang dibangun oleh Raja Suryawarman II, lebih tua dibandingkan Angkor, namun telah hancur akibat ranjau dan perang. Kompleks candi yang dibangun dari batupasir ini ditujukan sebagai candi Hindu, namun uniknya terdapat pula relief Buddha di dalamnya. Di situs ini, bahkan kami dipersilakan untuk memanjat sisa-sisa reruntuhan batu yang terikat dengan akar-akar pohon. Bagi mereka yang memiliki jiwa Indiana Jones, tentu saja ini pengalaman yang sudah ditunggu-tunggu.

Kembali ke tujuan utama, sedari subuh kami beranjak dari hostel demi menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat . Sistem tiket untuk memasuki komplek Angkor dibedakan menjadi 3 tipe, untuk 1 hari, 3 hari dan 1 minggu. Bagi yang sudah cukup kenyang melihat candi dan kuil (terutama wisatawan dari Asia), memang lebih disarankan untuk mengambil yang 1 hari saja. Angkor Wat berdiri menghadap ke arah barat dan sekitar pukul 6 kurang 15 menit, matahari pun terbit dari arah belakang. Dan tentu saja wisatawan dari Asia lah yang paling sigap dengan segala peralatannya untuk mengabadikan momen tersebut.

Kompleks candi ini tidak luas, namun sangat sangat luas apabila dijelajahi hanya dengan berjalan kaki. Dinamakan Angkor Thom yang berarti Angkor besar, karena di dalamnya terdapat lagi candi-candi di dalamnya termasuk kompleks Candi Angkor Wat. Hari itu saya memulai perjalanan dari The Bayon, yang merupakan candi yang memiliki 54 menara gotik yang terkenal karena memiliki relief wajah Avalokitesvara. Destinasi terakhir di komplek sekitar Angkor Thom pun saya akhiri di Ta Prohm, candi yang terkenal karena pernah menjadi lokasi syuting Tomb Raider. Syukur kami sudah menjelajahi Beng Mealea sebelumnya, karena beberapa tempat sudah banyak yang dipagari termasuk pohon yang akar-akarnya menyatu dengan candi.

Terdapat banyak anak kecil lokal yang bermain di daerah kompleks Angkor Thom. Mereka sering dikenal sebagai “One Dollar Kids”, dikarenakan mereka senang meminta (atau kali ini merengek) uang satu Dolar kepada para wisatawan. Lalu biasanya mereka akan memandu sebentar untuk menjelaskan tentang sejarah candi ini. Cukup mengejutkan bahwa mereka sudah cukup fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris maupun beberapa bahasa lainnya. Mereka bercerita bahwa para volunteer maupun responsible traveler yang bekerja di organisasi sosial nonformal di Siem Reap mengajarkan mereka berbagai bahasa.

Pada umumnya Kamboja memang terkenal dengan Angkor Wat, namun tidak semuanya itu berhubungan tentang candi. Siem Reap sendiri menawarkan berbagai variasi tenun sutra Kamboja dengan motif yang khas. Tidak sedikit tempat berbelanja maupun pusat budaya yang bercampur dengan kearifan lokal, seperti Old Market, Pub Street, Angkor Night Market sampai ke beberapa tempat seperti Artisans Angkor dan Rajana yang dikhususkan untuk membantu membudidayakan bagi mereka yang cacat, yatim piatu dan kaum papa. Hal seperti ini kemudian menyadarkan saya bahwa negeri dan masyarakat Kamboja pun menunjukkan semangat kebangkitan mereka dari trauma dan keterpurukan yang terjadi di masa lalu.

Teks & Foto: Jatidiri Ono

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.