Cinta adalah Pengorbanan, “Katanya”

Judul artikel ini mungkin menjadi sebuah kalimat yang sudah begitu lumrah didengar, bukan? Cinta adalah pengorbanan. Kalimat yang begitu sering digunakan di dalam setiap hubungan. Tak jarang pula, menjadi kalimat yang paling sering digunakan sebagai sebuah senjata. “Katanya kamu cinta, mana buktinya? Apa yang sudah kamu korbankan demi aku?”. Terdengar begitu indah, namun juga mematikan. Lalu, sejauh mana kata pengorbanan tersebut berlaku? Siapa yang dapat menilai bentuk pengorbanan tersebut?

Sama dengan kebanyakan orang, saya pun setuju bahwa terkadang cinta memang perlu diwujudkan dalam bentuk pengorbanan. Di dalam sebuah hubungan, Anda perlu membuang jauh ego demi kebahagiaan pasangan dan tentunya kelancaran hubungan. Namun, sejauh mana ego tersebut harus dikesampingkan? Seberapa banyak yang perlu dikorbankan? Bagi saya, beberapa hal di bawah inilah yang tidak selayaknya dikorbankan hanya demi sebuah hubungan romantisme. Sungguh tidak layak.

Mimpi

via GIPHY

Berapa banyak dari Anda yang pernah berada di sebuah persimpangan untuk  memilih antara mimpi atau pasangan? Berapa banyak kesempatan yang Anda relakan pergi begitu saja demi tetap bersama dengan pasangan? Beasiswa studi ke luar negeri? Tawaran kerja di benua lain? Tidak hanya berbicara tentang jarak, namun juga tentang pencapaian, khususnya bagi para kaum hawa. Berapa banyak perempuan di luar sana yang rela tidak naik jabatan demi mempertahankan harga diri sang pria? Terdengar konyol, namun kejadian ini sungguh terjadi.

Jika memang dia adalah sosok yang tepat, bukankah seharusnya dia justru mendukung Anda untuk mencapai mimpi yang mampu membuat Anda bahagia?

Kebersamaan dengan orang terdekat

via GIPHY

Untuk hal ini, saya cukup yakin bahwa begitu banyak pro dan kontra di dalamnya. Ketika masih berpacaran, saya lebih memilih untuk terus menghabiskan waktu bersamanya ketimbang dengan keluarga atau sahabat. Apa yang terjadi ketika hubungan tersebut kandas? Jelas, saya perlu menata kembali hidup saya dan membangun relasi bersama mereka yang sesungguhnya benar-benar ada untuk saya.

Saya sekarang sebisa mungkin dapat meluangkan waktu bagi mereka yang berharga. Di sela waktu luang, saya akan menyempatkan diri untuk berjumpa dengan sahabat, meskipun hanya sekadar dua atau tiga jam dan menghabiskan hari Minggu dengan keluarga. Hal-hal kecil yang ternyata bermakna.

Kebebasan

via GIPHY

Berapa banyak dari Anda yang pernah merasa terkekang oleh pasangan? Tidak boleh melakukan hobi tertentu atau mengunjungi tempat tertentu. Bukan karena mereka ingin menjaga Anda, hanya saja mereka tidak ingin Anda melakukan hal tersebut tanpa mereka. Namun, di sisi lain pun mereka tidak ingin melakukannya. Jadi hal yang dapat dilakukan hanyalah melarang Anda melakukannya. Sesederhana itu. Liburan? Konser musik?

Diri Sendiri

via GIPHY

Mari kita mulai dari hal fisik. Saya tahu, tubuh ideal juga merupakan aspek penting dalam kesehatan. Namun, jika Anda memaksa diri untuk melakukan diet ketat demi pasangan, apakah Anda yakin itu hal yang benar? Apalagi jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Yang meminta Anda untuk kurus pun belum tentu memiliki tubuh sixpack, bukan?

Secara mental, apakah Anda sadar dengan terus berkorban demi pasangan, sesungguhnya Anda kehilangan bagian dari diri sendiri? Anda tidak lagi tahu siapa diri Anda sebenarnya. Hidup Anda hanya berporos pada pasangan. Tidakkah Anda sadar bahwa hubungan yang lebih penting adalah dengan diri Anda pribadi?

Terkadang, hal-hal di atas pun dilakukan tanpa diminta oleh pasangan. Seolah alam bawah sadar Anda sudah diatur untuk selalu mengorbankan diri. Padahal, di sisi lain, mungkin pasangan Anda pun tidak ingin Anda melakukannya. Mungkin mereka ingin Anda mengejar mimpi pribadi, memiliki waktu bersama keluarga dan sahabat, mencoba hal yang ingin Anda coba, dan tentu, menyayangi diri Anda di atas segalanya.

How far is too far? How much is too much? Only you will ever know.

Meta Limesa

FEATURE REPORTER

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.